ImamMalik berpendapat bahwa sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah swt akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah swt mengurus lainnya". Allah swt telah menetapkan rezeki pada masing-masing hambaNya. Rezeki itu tidak mungkin tertukar. KALBARTERKINI - Dua orang imam umat Islam yakni Imam Malik dan Imam Syafii punya pemahaman berbeda tentang rezeki. Sebagaimana manusia pada umumnya, keduanya juga memiliki pendapatan tentang rezeki yang Allah SWT berikan kepada manusia.. Berikut, kisah diskusi keduanya dilansir berbagai sumber. Beliauberpendapat bahwasanya rezeki itu harus dicari dan ikhtiar. Tidak datang tanpa sebab. Seperti burung tersebut, harus keluar dari sangkarnya. Imam Syafi'i berkata: "Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?" Kisahimam Syafii dan Imam Maliki Mengenai Konsep Rezeki Selasa, 20 Agustus 2019 Add Comment ini adalah Kisah Imam Maliki RA & Imam Syafi'i RA Tertawa Karena Beda Pendapat Tentang Masalah Rezeki. #Imam_Malik_RA (Guru Imam Syafi'i RA) Beliau berkata, : Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah . Muslimahdaily - Dikisahkan, Imam Malik yang merupkan guru dari Imam Syafi’i tengah berada di majelisnya. Selayaknya guru dan murid, keduanya sering kali menyampaikan pendapat hingga berdebat. Pada suatu hari, Imam Malik menyampaikan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Ia dapat datang tanpa sebab dan manusia cukup bertawakkal dengan benar, lalu Allah akan memberinya rezeki. “Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya,” ujar Imam Malik. Bukan tanpa landasan, pendapat Imam Malik tersebut berdasarkan hadits Rasulullah berikut ini. “Andai kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” HR. Ahmad. Namun ternyata Imam Syafi’i memiliki pendapat lain. Menurutnya seandainya burung tersebut tidak keluar dari sangkar niscaya ia tidak akan mendapat rezeki. Baginya, untuk mendapat rezeki, dibutuhkan usaha dan kerja keras. Bukan datang sendiri, tapi harus dicari. “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” demikian sanggahan Imam Syafi’i. Keduanya tetap pada pendapat masing-masing. Tapi tak nampak rasa kesal dan benci satu sama lain karena perbedaan pandangan tersebut. Hingga pada suatu hari, Imam Syafi’i berjalan-jalan, ia melihat sekelompok orang tengah memanen buah anggur. Tanpa diminta, Imam Syafi’i berinisiatif membantu mereka. Setelah selesai, ia diberikan beberapa ikat anggur sebagai imbalan. Kejadian ini mengingatkan Imam Syafi’i tentang pendapatnya seputar rezeki. Pendapatnya terbukti dengan dirinya yang berinisitif membantu sekelompok orang tadi. Jika ia tidak berusaha membantu, tentu ia tidak akan mendapat beberapa ikat anggur. Imam Syafi’i senang bukan main. Ia lantas berbegas menemui sang guru. Hendak membenarkan pendapatnya tersebut. Kemudian dijumpainya Imam Malik yang tengah duduk santai. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, ia menceritakan kisahnya barusan. “Seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya,” ujar Imam Syafi’i. Mendengar ujaran tersebut, Imam Malik hanya tersenyum. Ia kemudian menimpali, “Seharian ini aku tidak keluar pondok dan hanya mengambil tugas sebagau guru, dan sedikit membayangkan alangkah nikmatnya jika di hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawa anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab?” “Cukuplah dengan tawakka; yang benar, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya,” tambah Imam Malik. Keduanya lantas tertawa bersama. Masing-masing Imam Malik dan Imam Syafi’i dapat membuktikan pendapatnya. Tentu tak pernah ada dendam ataupun saling menyalahkan di antara keduanya. Baik Imam Malik maupun Imam Syafi’i masih tetap pada pendapatnya namun tetap menerima pandangan satu sama lain. Akhirnya kedua imam mulia ini mengambil hukum yang berbeda dengan hadits yang sama. Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran, bahwa berbeda pendapat kerap terjadi di kehidupan sehari-hari. Namun hendaknya kita dapat menyikapi dengan biijak tanpa harus menyalahkan lainnya. Dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa Dia berkuasa dalam melapangkan dan membatasi rezeki setiap makhluk-Nya. Bagi mereka yang pandai bersyukur, Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Sebaliknya, orang-orang yang kufur nikmat akan memperoleh azab nan pedih. Seluruh Muslimin, khususnya kalangan ulama, meyakini kemahakuasaan Allah dalam menentukan rezeki atas seluruh ciptaan-Nya. Bagaimanapun, terdapat perbedaan pandangan mengenai bagaimana rezeki itu sampai kepada penerimanya. Di satu sisi, ada yang beranggapan bahwa rezeki datang kepada setiap makhluk tanpa sebab-akibat. Dalam arti, seseorang misalnya cukup berpasrah diri atau tawakal secara sungguh-sungguh kepada Allah. Dengan kehendak-Nya, Allah akan memberikan rezeki kepada orang tersebut. Di sisi lain, ada yang berpandangan bahwa upaya atau ikhtiar harus dilakukan terlebih dahulu untuk menjemput rezeki. Yang satu mempercayai, rezeki datang “begitu saja". Adapun yang lain bersikukuh akan pentingnya usaha. Selisih paham tentang itu, antara lain, direpresentasikan oleh debat antara Imam Malik bin Anas dan muridnya, Imam Syafii. Yang satu mempercayai, rezeki datang “begitu saja". Adapun yang lain bersikukuh akan pentingnya usaha. Pendiri mazhab fikih Maliki itu mendasarkan pendapatnya pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, “Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki, sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang keluar pada pagi dalam keadaan lapar, dan kembali pada sore dalam keadaan kenyang” HR Tirmidzi. “Bertawakal-lah kepada Allah, lakukan apa yang menjadi bagian kita,” kata Imam Malik dalam sebuah majelis. Sementara itu, Imam Syafii memiliki pandangan yang berbeda. Murid Imam Malik itu menilai, ikhtiar atau upaya jangan sampai dinafikan. Saat sang guru menjelaskan perihal hadis tersebut, ia menimpali, “Wahai syekh, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan memperoleh rezeki dari Allah?” Manusia lebih mulia daripada burung ataupun hewan lainnya. Sebab, Allah menganugerahkan kepadanya akal dan pikiran. Maka dari itu, lanjut sang pendiri mazhab fikih Syafii itu, untuk mendapatkan rezeki pun seseorang memerlukan kerja keras. Singkatnya, rezeki tidak datang sendiri. Manusia harus mencarinya melalui suatu di majelis itu berlalu. Beberapa hari kemudian, di suatu daerah Imam Syafii melihat rombongan kafilah petani. Mereka bergerak ke sebuah kebun anggur. Rupanya, musim panen sudah tiba. Imam Syafii tak hanya mengamati. Ia lantas mendekati seseorang dari rombongan tersebut untuk menawarkan jasanya. Setelah bernegosiasi dengan pemilik kebun, disepakatilah bahwa dirinya mendapatkan seikat anggur sebagai upah pekerjaannya. Dalam hatinya, Imam Syafii bersyukur kepada Allah SWT. Utamanya bukan karena mendapatkan pekerjaan “dadakan” itu. Sebab, dengan upah yang nanti didapatkannya ia dapat membuktikan kebenaran argumentasinya di hadapan sang syekh, Imam Malik. Beberapa jam berlalu, proses panen pun tuntas dikerjakan. Sesuai yang dijanjikan, Imam Syafii memperoleh seikat anggur dari si pemilik kebun. Setelah menghaturkan terima kasih, ia pun berjalan pulang ke kotanya. Ia segera menjumpai Imam Malik yang kelihatannya baru saja keluar dari majelis ilmu. Gurunya itu tampak sedang duduk santai, menikmati udara sore. Setelah mengucapkan salam, Imam Syafii pun menuturkan pengalamannya. Ia lalu memberikan seikat anggur itu kepada sang guru, seraya mengatakan, “Wahai syekh, seandainya saya tidak keluar rumah, berjalan ke daerah itu, dan ikut membantu para pekerja memanen kebun anggur, tentu saja seikat anggur ini tidak akan pernah sampai di tangan saya.” Sambil menerima buah nan segar itu, Imam Malik pun berkata pelan, “Seharian ini aku di dalam madrasah saja, tidak ke mana-mana. Sesudah mengajar, pikir-pikir Ah, alangkah nikmatnya jika di hari yang terik ini aku bisa memakan anggur.’ Tiba-tiba, engkau datang ke mari sambil memberikan seikat anggur ini untukku.” “Bukankah ini berarti rezeki yang datang tanpa sebab? Aku cukup bertawakal kepada Allah, selanjutnya biar Allah yang membukakan jalan untukku,” sambung Imam itu, Imam Syafii seketika tertawa. Begitu pula dengan gurunya. Masing-masing mengutamakan adab, jauh dari sifat saling menyalahkan. Demikianlah, akhlak kalangan alim ulama dalam menyikapi perbedaan ikhtilaf. Masing-masing mengutamakan adab, jauh dari sifat saling menyalahkan. Tidak ada tendensi untuk membenarkan diri sendiri, termasuk dalam soal menyikapi rezeki. Masih terkait rezeki, dalam kitab Anta wa al-Maal 2003 disebutkan tentang dua pendekatan yakni asbaab maaddiyyah dan asbaab diniyyah. Yang pertama berarti terukur’. Maknanya, rezeki datang secara material melalui bekerja, usaha, ataupun ikhtiar. Sebab, Islam mengajarkan umatnya agar memiliki etos kerja. Jauhi sifat malas apalagi frustrasi sehingga terkesan “mengemis” belas kasihan orang lain. Dalam surah al-Mulk ayat 15, Allah SWT berfirman, yang artinya, “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah bekerjalah di segala penjurunya dan makanlah sebahagiaan dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan.” Sebagai gambaran, Allah Ta’ala juga menyuruh kaum Muslimin untuk mencari rezeki dan berkah-Nya sesudah mereka melaksanakan kewajiban ritual, semisal shalat Jumat. Dalam surah al-Jumu’ah ayat 10, dijelaskan, “Apabila telah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah dengan ingat yang banyak, agar kalian mendapatkan kebahagiaan.” Sementara itu, asbaab diniyyah adalah sebab-sebab yang berkaitan dengan perilaku keagamaan individu maupun kolektif. Tidak hanya ibadah yang bersifat vertikal habluminallah, tetapi juga horizontal habluminannas, semisal zakat, infak, atau sedekah. Sebab, ketaatan kepada Allah Ta’ala akan mengundang rezeki yang penuh keberkahan. Hal itu disinggung dalam surah at-Tholaq ayat 2-3. Artinya, “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”  Blog Sejarah Selasa, 2 Maret 2021 - 0915 WIB VIVA – Bagi kita umat Islam yang manganut 4 Madzhab pasti sudah mengenal dua nama Imam dalam kisah kali ini, nama Imam tersebut ialah Imam Malik dan Imam Syafi’i. Imam malik merupakan guru dari Imam Syafi’i, Keduanya adalah ulama fiqih besar yang sangat berjasa dalam perkembangan agama Islam di seluruh penjuru Malik dan Imam Syafi’I sangat akrab. Layaknya guru dan murid mereka kerap duduk bersama, tidak jarang keduanya berdebat tentang sebuah ilmu. Pada suatu hari, Imam Malik dan Imam Syafi’i berada dalam satu majelis ilmu. Pada kesempatan tersebut Imam Malik menerangkan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah, Bisa datang tanpa sebab dan manusia cukup bertawakal dengan benar, maka Allah akan memberikannya Malik berkata, “Lakukanlah yang menjadi bagianmu, selanjutnya biar Allah mengurus lainnya.” Apa yang diterangkan oleh Imam Malik tersebut beliau menukil sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang artinya “Andai kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan berikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung yang pergi dalam keadaan lapar lalu pulang dalam keadaan kenyang.” HR. Ahmad.Mendengar apa yang diterangkatan oleh sang guru, Imam Syafi’i langsung menyampaikan pendapat yang mana pendapat tersebut berseberangan dengan yang disampaikan oleh sang guru. Beliau berpendapat bahwa rezeki tentu harus dicari sebagaimana burung tadi yang harus keluar dari Syafi’i berkata, “Wahai guru, seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki?” Setelah itu, Imam Malik dan Imam Syafi’i tetap berpegang pada pendapat dalam kesempatan yang lain, Imam Syafi’i yang tengah jalan-jalan melewati sejumlah petani anggur yang tengah memanen anggurnya. Karena Imam Syafi’i merupakan seorang yang alim, meski tanpa diminta bantuan Imam Syafi’i membantu para petani tersebut memanen anggur. Halaman Selanjutnya Setelah selesai memanen kemudian beliau diberi imbalan berupa beberapa ikat anggur. Atas kejadian tersebut, Imam Syafi’i semakin senang dan yakin bahwa pada dasarnya rezeki mesti dicari seperti apa yang baru saja ia kerjakan. IMAM Malik Guru Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Tuhan yang mengurus sisanya.” Imam Syafii bertanya, “Jika seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia mendapat rezeki?”. Guru dan murid itupun tetap teguh dalam pendapatnya masing-masing. Suatu ketika Imam Syafii pergi berjalan-jalan dan melihat sekelompok petani sedang memanen buah anggur. Beliau juga membantu mereka. Setelah pekerjaannya selesai, Imam Syafii menerima imbalan berupa beberapa ikat anggur. Imam Syafii senang bukan karena mendapat anggur, tapi karena hadiah itu menguatkan pendapatnya. Imam Syafi’i akhirnya bergegas menemui gurunya Imam Malik. Sambil meletakkan semua anggur yang didapatnya, beliau menceritakan, dan sedikit mengeraskan kalimatnya, ”Jika saya tidak keluar dari gubuk dan melakukan sesuatu membantu memanen, tentu anggur tidak akan pernah sampai ke tangan saya.” Mendengar perkataan Imam Syafi’i, gurunya Imam Malik tersenyum sambil mengambil anggur dan mencicipinya. Kemudian Imam Malik berkata dengan lembut, “Hari ini saya tidak keluar, hanya mengambil pekerjaan sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah baiknya jika di hari yang panas ini saya bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang membawakanku beberapa buah anggur segar. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa alasan. Cukup dengan tawakkal kepada Allah, pasti Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan bagianmu, lalu biarkan Allah yang mengurus sisanya.” Akhirnya, guru dan murid itu saling tertawa. Begitulah cara para ulama melihat perbedaan, bukan dengan menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapat mereka. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.*

kisah imam syafii dan imam malik tentang rezeki